Punya ‘Harta Karun’ Ini, RI Harusnya Bisa Bebas Impor Minyak!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia ternyata menyimpan ‘harta karun’ yang bisa membuat negara ini terbebas dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

‘Harta karun’ yang dimaksud yaitu tanaman yang bisa diolah sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel.

Selain minyak sawit (CPO) yang sukses menekan angka impor BBM Solar, RI memiliki sumber tanaman lain untuk diolah menjadi bioetanol, BBN yang bisa dicampur dengan bensin. Sejumlah tanaman yang bisa diolah menjadi bioetanol antara lain tebu, sorgum, jagung, singkong, dan sebagainya.

Guna menekan angka impor BBM, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun kini tengah menggenjot pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin.

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM Edi Wibowo mengatakan, program campuran bioetanol dilakukan setelah pemerintah sukses menjalankan program pencampuran BBN jenis biodiesel ke dalam minyak Solar sebesar 35% (B35).

Adapun, pengembangan bioetanol sebagai bahan baku campuran BBM jenis bensin sangat mendukung atau memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Apalagi, tanaman atau bahan baku pembuatan bioetanol tersedia di dalam negeri.

“Sebagaimana biodiesel yang berbasis sawit, sehingga kita tidak perlu impor kembali, kita maksimalkan, sehingga kita tidak impor daripada biosolar,” kata dia dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia, Rabu (20/12/2023).

Meski begitu, ia mengaku pengembangan bahan baku bioetanol di dalam negeri masih berkutat pada persoalan pasokan. Pasalnya, saat ini pemerintah masih mengandalkan bahan baku seperti tebu atau gula untuk pembuatan bioetanol.

Sementara, bahan baku pembuatan bioetanol sejatinya tidak hanya terbatas pada komoditas tebu. Karena itu, pihaknya akan melihat potensi dari tanaman lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol pengganti tebu.

“Ke depan kita juga perlu mendiversifikasi bahan baku seperti sorgum kemudian singkong, jagung dan sebagainya. Seperti negara-negara lain yang maju kan Amerika, kemudian Brazil, itu kan juga dengan tebu dan jagungnya. Sebenarnya kita negara tropis sangat mungkin dikembangkan tanaman lain,” katanya.

Dia menyebut, konsumsi bensin RI pada 2022 mencapai 35,8 juta kilo liter (kl). Adapun 60% atau sekitar 22 juta kl berasal dari impor. Oleh karena itu, pengembangan bioetanol diharapkan secara bertahap bisa menekan angka impor minyak RI. https://madusekali.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*